Menjadi semacam keharusan. Bokeb Pakaian tidurku entah sudah tercampak dimana. Aku terperangah karena tiba-tiba saja terasa aliran kencang berdesir dalam tubuhku. Kadang-kadang lidahnya menjentik sekali-sekali ke atas putingku.“Nggak rela.. Akang mau ngapain kemari.. Mulutku terasa kaku. Aku tersenyum melihat Kang Hendi nampak berusaha keras untuk bertahan, padahal sudah kurasakan tubuhnya mulai mengejang-ngejang. Akang pasti mau nemenin semalamam..” celoteh Kang Hendi seakan tak tahu betapa malunya diriku mendengar ucapan itu.Aku sudah tak perduli lagi dengan celotehan tak senonohnya. Aku semakin terbang melayang, membayangkan keperkasaannya. Uugghh.. Pertama seminggu sekali ia mengunjungiku, kemudian sebulan dan terakhir aku sudah tak menghitung lagi entah berapa bulan sekali dia datang kepadaku untuk melepas rindu.Aku tak berani menghubunginya.




















