Saat hendak merebahkannya, setir mobil menghalang gerakan kami. Bokeb “Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?”. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Kami terus bercakap-cakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan. Dengan lincah Mikha telah duduk di sampingku. Di antara teman-temannya, dia yang paling menonjol. Setelah pagi, baru aku mengantarnya pulang. Mikha tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati asap rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang terbuka. Kami terus bercakap-cakap. Apakah pemimpin partai itu menghargai kenekadan mereka? Apakah para ketua partai itu kenal sama mereka? Di sana kami terdiam, mendengarkan ombak, begitu istilah Mikha tadi.




















