Tua-tua Keladi, Kakek Arab Menyusup Ke Markas!

Saat hendak merebahkannya, setir mobil menghalang gerakan kami. Bokeb “Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?”. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Kami terus bercakap-cakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan. Dengan lincah Mikha telah duduk di sampingku. Di antara teman-temannya, dia yang paling menonjol. Setelah pagi, baru aku mengantarnya pulang. Mikha tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati asap rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang terbuka. Kami terus bercakap-cakap. Apakah pemimpin partai itu menghargai kenekadan mereka? Apakah para ketua partai itu kenal sama mereka? Di sana kami terdiam, mendengarkan ombak, begitu istilah Mikha tadi.

Tua-tua Keladi, Kakek Arab Menyusup Ke Markas!

Related videos