Tepat sebelum aku terlelap, kubisikkan sebuah pertanyaan padanya. Hanya sebuah nama, yang dimiliki berjuta-juta orang. Bokep Live Kulepas jasku dan meletakkannya di atas buffet, lalu aku berjalan menuju bar kecil di ruang dapur. Nafasnya masih terengah. Saat itu jemarinya sudah masuk ke dalam celana dalamku, mengelus, lalu menggenggam batang kemaluanku. Tapi akhirnya kutekan pedal gas dan melajukan mobil menuju rumahku.“Well, home sweet home,” ucapku setelah menghentikan mobil di tepi trotoar. Ia melepaskan tangannya. Namun bukannya langsung pulang, di jalan ia memintaku untuk berhenti di Dunkin’s. Tidak. Nafasnya masih terengah. Lonjakan-lonjakan jantungku membuat mataku terpejam. Ia sudah melepas cardigan birunya. Bagaimana aku tidak merasa lucu?” Aku ikut tertawa juga mendengar pemikirannya tentangku. Di tangannya sebuah gelas berisi lemon tea yang tinggal setengah.Saat pertama aku melihatnya, aku merasa tertarik.




















