Om Ridwan nampak ragu melanjutkan kata-katanya, namun akhirnya laki-laki paruh baya itu melanjutkannya. Bokep Colmek Ini juga terlihat dari setelan jas hitam yang dipakainya saat itu. Ditekannya tombol jawab. “Nih lagi iseng browsing sambil nunggu kamu mandi”. Beberapa menit menunggu akhirnya ponsel yang dipegangnya berbunyi. Terbersit rasa kagum dalam diri Cinta melihat sosok laki-laki paruh baya itu. “Aduh kejauhan Om, rame lagi, gimana kalo cafe *** aja?”. Cinta sudah terbiasa menginap di rumah Felisia, demikian pula sebaliknya. “Gak apa-apa”. “Sama dong, gue juga habis nyoba rekomendasi temen”.Detik ketika mata laki-laki itu menatap ke arahnya, ibarat petir di siang bolong bagi Cinta. Om Ridwan berdehem. “Yakin bisa nunggu?”. Masih dengan tatapan yang sama, masih dengan ekpresi yang sama. Keduanya membisu dan terlihat kikuk. Untuk laki-laki berusia diatas kepala lima Om Ridwan mungkin tidaklah tampan, namun berkarisma.




















