Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau.“Pit.., namamu Pipit. Bokep SMA Kamu juga sih..”Setelah itu sambil sama-sama tersenyum aku nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu hingga tubuhnya menempel di dadaku, dan akhirnya kami saling berpelukan tidak terlalu erat tadinya. Pipit menatapku.“Mas.. Bikin aku kelojotan.. Aku masih berjuang untuk hal itu hingga detik ini. Aku terima saja gelasnya dan meminumnya. Sedang tentangku sendiri masih berpetualang dan terus berharap ada “Pipit-Pipit” lain yang nyasar ke pelukanku. Aku semakin mendapat keberanian untuk mengelus wajahnya. Yang penting saat ini aku yang sedang berhak penuh mereguk kenikmatan bersamanya. Khabar terakhir tentang Pipit aku dengar setahun yang lalu, bahwa Pipit sudah pulang kampung, bukan sendiri tapi dengan seorang anak kecil yang ditengarai sebagai hasil hubungan gelap dengan majikannya semasa bekerja di negeri Jiran itu.




















