Sehabis menikmati dunia, anak-anak itu berpencar lagi, termasuk anak laki-laki yang kembali ke dekat tiang lampu merah. Bokep “Kamu tidak perlu melakukan itu.”
“Aku tidak ingin kamu sakit.”
“Aku sudah pakai jas hujan.”
“Itu tidak cukup.”
Lalu, sebuah mobil di seberang jalan membukakan pintu. Dia menjual, bukan mengemis. Anak laki-laki itu mengangguk saja. Aku tidak tahu tapi aku teramat jengkel dengan diriku sendiri. Dia menjual, bukan mengemis. Malam itu tidak hujan tapi bau aspal basah karena hujan tadi sore masih menguar. Dia menjajakan kantong-kantong plastik hitam itu ke setiap pengendara yang singgah karena lampu merah. Ketika hujan datang, aku membasah. Di tengah keremangan, aku menyaksikan anak laki-laki itu bersama dengan gerombolan anak yang tadi. Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Dua jam berlalu, baru satu pengendara yang berhasil membeli kantong plastiknya.




















