“Ma.. Bokeb umm.. “Nia.. mm.. Anganku melayang, kujatuhkan tubuhku di tempat tidur, menunggu reaksi obat bekerja. “Ahh.. Nia mencondongkan kepalanya. Ah, ya. lampunya..” Nia berkata setengah tertahan. Di tengah jalan hampir saja aku terjatuh, reaksi Nipam di tubuhku masih belum hilang benar. “Iya, kayaknya belum deh..” Nia menimpali. “Ray.. Raayy!” seru gadis itu tak kalah sengit. Setan pun tertawa dalam jiwaku.Kubayangkan tubuh Enni di atasku, tanpa pakaian, tubuhnya bersimbah peluh. Jadi, sebelum tangannya menyingkirkan tubuhku, kuciumi lagi wajahnya, meremas payudaranya, membuatnya mengerang dan melenguh. Kami akhirnya mengambil tempat di salah satu warung di sebelah toko buku itu.“Ray, gimana aja kabarnya.. oohh.. nggak pernah ada apa-apa kan?” Aku tersenyum kepadanya.“Thanks..”
“Your welcome, Ray,” jawab gadis manis itu sebelum menghilang di balik pintu rumahnya.




















