“Ayo…Kang ….” Secepat kilat Aku memelorotkan celana pendekku sekaligus dalemannya. Bokeb ?” Kulihat ekspresi wajahnya yg kaget sekejap. Pahanya sdh membuka lebar. Jadi apanya yg aneh. Aku sempat melayg-layg sampai suatu saat kesadaranku mendarat kembali ke bumi, ratio mengalahkan emosi. Bahkan erangannya mirip rintihan isteriku. Kami berciuman. Dia sebenarnya ingin sekolah sampai tingkat sarjana, hanya kebiasaan di kampung mengharuskan anak perempuan sdh berrumah-tangga ketika mencapai umur 16 atau 17 tahun. tolong Akang mengerti ….” Tanpa menunggu reaksiku Lilis kembali menciumiku. Cuma sebentar, kembali dia mengejutkanku, dgn sigapnya dia melepas kancing-kancing dasternya lalu menyodorkan dadanya ke mukaku. Imagi begini jelas saja membuat perangkat bawahku semakin mengencang. Kurebahkan tubuhku menindihnya. Tp menyadari ‘keadaan’ begini, sebagai lelaki normal tak urung ada yg menggeliat di balik celana pendekku.










