Ia segera mendekapku dan mengulum bibirku yang ranum. Jangan! Bokeb Enak kan?”Aku mengangguk. Tiba-tiba aku seperti terkejut ketika lidahnya mulai menjilati ujung puting susuku yang tidak terlalu tinggi tapi mulai mengeras dan tampak menggiurkan.Seperti mendapat kekuatanku kembali, segera kutampar wajahnya. Itupun masih jarang sekali.Bahkan ke diskotik pun aku hanya pernah satu kali. Memang rasanya kepalaku sudah mulai tidak sakit lagi. Aku pun langsung menelan obat sakit kepala yang diberikannya.“Gimana sekarang rasanya? Rugi kan. Memang rasanya kepalaku sudah mulai tidak sakit lagi. Sejak saat itu aku bersumpah tidak akan pernah mau ke tempat-tempat seperti itu lagi.Sudah dua tahun berlalu aku dan ibuku hidup bersama dengan ayah dan adik tiriku, Rio, yang umurnya tiga tahun lebih muda dariku. Lagian kan masih sore.”“Tapi gue udah tidak tahan lagi.”“Gini deh, Mer.




















