ahhhh…… huhhhhhhh…ehhhhhh. Aku mendorong badannya, dan aku menangis. Bokep Ketika tanganku memegang tangannya yang berbulu lebat, ada perasaan canggung dan geli. Tangan kekar berbulu itu beberapa kali menyentuh pundak dan leherku. Senyum Pak Hamid berkembang. Aku duduk mepet ke Pak Hamid. Sambil memerika, kami berdua terlihat pembicaraan ringan, mulai dari sekolah sampai hobi. Satu persatu pengikat BHku lepas sehingga tampaklah susuku yang masih sangat padat lengkap dengan putingnya yang berwarna coklat kemerahan dan sudah berdiri dengan pongahnya. Aku melompat dan memeluk Pak Hamid. Aku tidak menolak ketika Pak Hamid memelukku dari belakang. Pantatku diangkat tinggi dengan kedua tangannya ketika benda itu semakin dalam terbenam. “Terima kasih dik….”. Angin kencang menyebabkan tubuh kami basah dan dingin. Aaah….ahh…..ahh…….haaaa………………… …..haassss……. Dia tidak lagi memanggilku Bu Dokter, tapi cukup namaku, dik Nastiti. Kesadaranku mulai pulih, emosiku mereda.




















