Aku hanya diam menggigit bibir dengan kepala mendongak. Tiba-tiba si sopir nanya suamiku, “Berapa?”
“Berapa?” tanya suami ku lagi tidak mengerti. Film Porno “Tunggu Mas…” aku memanggilnya pelan. Suamiku sangat senang melayani mereka dengan ramah. Dia membetulkan celananya kembali. Kami berdua tidur di dalam van yang berisikan kain dagangan kami. “Gak suka?” tanyanya pendek. Dia masuk van merangkak naik ke atas aku yang sudah meringkuk telanjang.Aku dan sopir langsung main dengan kilat, dia menarik turun celana dan celana dalamnya, kontolnya sudah mengeras seperti kayu saat mulai menindihku. Aku tak akan lupa dirinya.————–
Esok harinya aku smsi Ilyas, namun dia tak merespon. Dia sendiri seolah membiarkannya, tidak mau tahu pantat istrinya didorong penis pengunjung lapak yang tidak semuanya membeli, sebagian hanya lihat lihat saja.Sehabis dilecehkan begitu, nafsu syahwatku yang naik jadi selalu ingin sentuh dan menaiki penis suamiku.




















