Ia semakin tidak berdaya seperti kapas kering yang terapung. “Wah, gawat. Bokeb Bisa?” “Untuk Ibu aku selalu bersedia “, sahutku nakal. Kurebahkan ia ke atas ranjang. Tak lama kemudian, mobil itu menderum meninggalkan rumah. Kugerakkan perlahan-lahan ke atas. Aku tak tahan lagi! Aku mengecup bibirnya yang merah merekah itu dgn penuh gairah. Okay! Betapa beruntungnya aku, wanita Cina pertama ini sungguh menawan. Kalau lebih dari satu itu lebih baik”, kataku. Hawanya cukup sejuk, mendung dan kelihatannya akan hujan. “Masukkan sekarang juga! Wah, iri hati aku”, katanya. Jadi jangan khawatir. Hihihihii..” “Siap deh, Bu”, sahutku. Kalau di tempat asalku sangat jarang untuk bergaul dgn orang Cina, maka di Surabaya hal itu bukan hal yang aneh.




















