Sepanjang perjalanan, Mama Lastri asyik menelpon seseorang dan suaranya terdengar begitu manja, aku menduga dia menelpon suaminya. Spermaku tumpah di dalam rahimnya, rahim wanita yang pernah mengandung istriku.“Okh… saya puas Ma….”, jeritku keenakan.“He3x…. Bokep Tante Sini kamu…”, panggil Mama Lastri dari ruang tengah.Sial, aku yang masih canggung memakai kembali celanaku meskipun tidak aku kancingkan. Aku mendapatkan kesempatan lagi memandang tubuh montoknya dibalut handuk. Salah satu keunggulan Mama Lastri adalah pantatnya yang bulat dan besar. Aku mendapatkan kesempatan lagi memandang tubuh montoknya dibalut handuk. Kuludahi anusnya yang berlubang sempit itu sehingga basah dan kemudian aku usap dengan jari.“Nah… begitu… sekarang masukin jari kamu pelan-pelan…” pintanya lagi. Sampai akhirnya aku tak kuasa menahan luapan birahiku. Mama Lastri, begitu aku memanggilnya adalah korban poligami.




















