Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Bokep Tante Ke mana ia? Tangannya halus. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Ia cukup lama bermain-main di perut. Creambath? Apakah perlu menhitung kancing. Dadaku berguncang. Aku menggelepar.“Sst..! Lalu pindah ke pangkal paha. Ke bawah: Tidak. Sial. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Tapi masih terhalang kain celana. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Di mana? Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya




















